Museum Radya Pustaka, Sekeping Sejarah Kuno Solo – Traveling Yuk

Museum Radya Pustaka Solo

Jalan-jalan rasanya belum lengkap jika belum menjajal kuliner, mempelajari budaya, atau menjelajah alam setempat. Demikian pula jika Teman Traveler mampir ke Solo. Kota berjuluk ‘The Spirit of Java’ ini terkenal dengan budaya Jawa dan kesantunan masyarakatnya. Nah, jika Teman Traveler ingin menyelami salah satu periode sejarah Solo, bisa coba mengunjungi Museum Radya Pustaka.

Mesin ketik kuno (c) Esti Traveler/Travelingyuk

Berada satu komplek dengan Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Jalan Brigjend Slamet Riyadi no 275, Laweyan, Solo. Harga tiket masuknya Rp5.000 per orang, dengan jam buka antara 09.00 hingga 14.00.

Salah Satu Museum Tertua di Indonesia

Bagian dalam museum (c) Esti Traveler/Travelingyuk

Begitu memasuki halaman Teman Traveler akan disambut patung Rangga Warsita, seorang pujangga besar Surakarta di Abad ke-19. Museum ini merupakan tertua di Indonesia dan menyimpan beragam arsip lama Pemerintahan Solo jaman dulu.

Menurut catatan sejarah, bangunan ini dulunya merupakan kediaman warga Belanda bernama Johannes Busselaar. Setelah dibeli Sri Susuhunan
Pakubuwono X, gedung diserahkan pada Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV (Patih dalem Keraton Surakarta) pada 18 Oktober 1890 untuk dijadikan museum.

Hingga kini bentuk bangunan aslinya masih tetap dipertahankan. Teman Traveler bisa melihat beragam sudut cantik bernuansa kolonil di tempat ini.

Wayang Berusia Ratusan Tahun

Koleksi wayang (c) Esti Traveler/Travelingyuk

Museum ini juga memiliki koleksi wayang berusia ratusan tahun dan masih awet hingga sekarang. Jenis yang dipamerkan antara lain Wayang Gedhog Madura, Gedhog Surakarta, Purwa, Klithik Kayu, Madya, Sukat, Beber dan Dupara.

Selain itu ada juga Wayang Nang asal Thailand dan Vietnam berusia 173 tahun. Keduanya merupakan cinderamata yang diterima pada masa Pakubuwana X.

Uniknya, tiap bulan Sura (1 Muharram kalender Islam), ada tradisi Ngisis Ringgit untuk menghormati karya leluhur dan menjaga agar koleksi wayang tetap awet. Proses ini dilakukan dengan mengeluarkan wayang dari tempat penyimpanan, dibersihkan, lalu diangin-anginkan (ngisis-red).

Gamelan Kuno Beraura Mistis

Salah satu koleksi Radya Pustaka (c) Esti Traveler/Travelingyuk

Memasuki ruangan bagian tengah, terdapat seperangkat gamelan kuno berusia 100 tahun yang dijuluki Gamelan Ageng Radya Pustaka. Koleksi ini merupakan peninggalan KRA. Sosrodiningrat IV dan masih sering digunakan untuk pertunjukan kesenian. Sebelum dimainkan, gamelan biasanya akan melewati suatu tahapan ritual khusus.

Berjalan sedikit lagi, Teman Traveler bisa melihat Canthik Rojomolo, perahu milik Keraton Surakarta yang mistis dan melegenda. Sesuai namanya, di bagian depan perahu terdapat Patung Rojomolo karya Pakubuwono V. Rojomolo sendiri merupakan sosok raksasa penguasa lautan.

Koleksi Mata Uang Kuno

Koleksi uang kuno (c) Esti Traveler/Travelingyuk

Teman Traveler juga bisa melihat koleksi mata uang kuno Indonesia dan asing di sini. Koleksinya mencapai ratusan, sebagian merupakan
hasil hibah berbagai pihak. Bukan hanya uang kertas, kalian juga bisa melihat uang koin rupee, yuan, dollar Singapura, lira, ringgit, dinar, pound Mesir, hingga peso.

Banyak Arca Peninggalan Kerajaan

Patung KRA. Sosrodiningrat IV (c) Esti Traveler/Travelingyuk

Museum ini juga memiliki beragam koleksi arca kerajaan. Seperti di teras atau pintu masuk museum. Koleksi arcanya meliputi Ganesha, Siwa Mahadewa, Durga Mahisasuramardini (dewi bertangan delapan), dan Kartikeya (relief dewa yang mengendarai Mayura/burung merak).

Arca tersebut merupakan peninggalan dari Abad 7-10 masehi dan kebanyakan ditemukan di sekitar Candi Prambanan. Selain itu juga ada koleksi lain seperti keramik, keris, tombak, dan lainnya.

Itulah sedikit ulasan mengenai Museum Radya Pustaka, sekeping sejarah masa lalu Solo. Bagaimana Teman Traveler, jangan lupa agendakan berkunjung ke sini jika kalian sedang berada keliling wisata Solo, ya. Mau ajak siapa, nih?

Sumber Link