Arus yang Menghubungkan Semua Laut di Dunia

Arus air laut muncul disebabkan oleh perbedaan sifat fisik air laut antara lain salinitas, suhu, kosentrasi oksigen, kosentrasi mikronutrisi, dan komposisi kimia air laut. Arus air laut global disebut juga sebagai arus ‘delapan’ karena berbentuk conveyor belt yang menghubungkan semua lautan di dunia, dari Pasifik, Hindi, Antlantik, hingga Arktik.

Bagaimana arus global terbentuk?

Arus air laut global merupakan arus konveksi yang terbentuk akibat perbedaan suhu air pada permukaan laut, dan suhu air di dasar laut yang dikontrol oleh posisi lintang. Air Laut di kutub (utara) cenderung lebih dingin, sehingga memiliki massa jenis yang lebih berat, dia pun cenderung bergerak ke dasar laut (downwelling). Sedangkan, air pada daerah di sekitar khatulistiwa cenderung lebih hangat, sehingga air dari bawah permukaan cenderung bergerak ke arah lintang yang lebih tinggi (dingin), dan air pada dasar laut di khatulistiwa bergerak ke atas (upwelling).

© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Ilustrasi: Arus air laut global yang menunjukkan arus air hangat di khatulistiwa bergerak kearah kutub dan air di kutub utara tenggelam ke laut dalam (Sumber: yale.edu)

Apa manfaat keberadaan arus ini? Apakah sangat penting bagi manusia? Jawabanya adalah ‘SANGAT PENTING’. Pergerakan arus ini yang menyebabkan terjadinya distribusi panas di lautan. Sedangkan di atmosfer menyebabkan peristiwa El Nino dan El Nina, distribusi nutrisi laut seperti persebaran plankton dan koloni ikan, pertumbuhan batu karang, dan komposisi kimia laut lainnya. Kehadiran mikronutrisi, komposisi kimia air laut, dan plankton sangat penting dalam keberlangsungan rantai makanan di laut.

Sebagai pengingat saja, 70 persen oksigen di atmosfer berasal dari hasil fotosintesis plankton. Sehingga jika arus ini rusak atau berhenti bekerja, maka oksigen akan berkurang, dan bumi akan mengalami anoxic event atau kondisi minim oksigen yang tentunya mengancam makhluk hidup yang bernapas dengan oksigen,

Apa yang bisa menyebabkan arus air laut rusak? Sebenarnya apa yang menjadi penggerak arus air laut global? Terdapat dua mesin penggerak arus air laut global yang harus menyeimbangkan satu dan yang lainnya yaitu: Pertama, air panas di khatulistiwa yang disebabkan sinar matahari, kedua, tudung es yang ada di kutub utara. Kitadakseimbangan kedua mesin ini dapat berdampak katastrofe di muka bumi.

Sinar matahari akan tetap ada meskipun telah menyinari bumi setidaknya 4,6 miliar tahun. Namun mesin kedua, tudung es di kutub telah mengalami kemunculan dan menghilang, yang mengakibatkan perubahan drastis di muka bumi. Bahkan dihipotesiskan menjadi salah satu pemicu kepunahan massal makhluk hidup. Hilangnya tudung es akibat pemanasan global akan menyebabkan air laut bersuhu panas di permukaan bumi tidak dapat tenggelam (downwelling), sehingga air dasar laut tidak mendapatkan suplai nutrisi dan oksigen yang banyak dari air laut di permukaan. 

Ilustrasi: Gambar kehidupan bawah laut (Sumber: Pixbay)© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Ilustrasi: Gambar kehidupan bawah laut (Sumber: Pixbay)

Hal ini akan memicu kematian makhluk hidup yang bernapas dengan oksigen di dasar laut, jasad makhluk hidup akan mengalami dekomposisi yang melepaskan unsur karbon (CO2 dan CO). Akibatnya, air laut akan semakin jenuh karbon dan oksigen akan semakin menghilang dari air laut.

Analogi sederhana adalah saat tubuh kita sakit dan mengalami infeksi dan infeksinya menyebar, menyebabkan bagian tubuh lain menjadi sakit dan dapat berdampak kematian secara keseluruhan. Terdengar mengerikan memang bahwa pemanasan global bisa menghilangkan es yang juga berdampak matinya ekosistem laut.

Oke, jika bumi bisa mati karena kekurangan oksigen, lalu apakah akan mendapatkan oksigen kembali? Jawabannya. ‘TENTU SAJA BISA’. Hal ini sudah sering terjadi bahkan membentuk siklus dalam umur geologi yang dikenal sebagai siklus Oceanic Anoxic Event (OAE) dan Oceanic Red Bed (ORB). Oceanic Anoxic Event adalah kondisi air laut yang kekurangan oksigen sedangkan Oceanic Red Bed adalah kondisi laut yang jenuh dengan oksigen sehingga endapan sedimen menghasilkan warna merah akibat teroksidasi. Hanya saja perubahan siklus ini terjadi minimal dalam kurun waktu 100 ribu hingga satu juta tahun. Apakah kita akan menunggu selama itu agar bumi kembali seimbang?

© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network

Sumber Link