RI Sesali Inggris Tak Jelaskan Status Benny Wenda

Jakarta, CNN Indonesia — Indonesia menyesali sikap Inggris lantaran tidak pernah menjelaskan status tokoh separatis Papua, Benny Wenda, yang sudah 17 tahun mengasingkan diri di negara itu.

“Inggris tidak bisa menjelaskan status Benny Wenda kepada Indonesia sekali pun. Itu yang kami sayangkan,” kata pelaksana tugas juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah, dalam jumpa pers rutin di Jakarta, Kamis (18/7).

Teuku menjelaskan pemerintah Indonesia tidak dapat memverifikasi status Benny karena Ketua Persatuan Gerakan Pembebasan untuk Papua Barat (ULMWP) itu melarikan diri dari Indonesia pada 2002 lalu.

Sebelum lari, kata Teuku, Beny sempat ditahan karena terlibat tindakan kriminal. Namun, Benny disebut kabur dari rumah tahanan.

“Proses bagaimana dia (Benny) kabur dari Indonesia dan sampai ke Oxford kami tidak bisa ketahui. Statusnya sekarang (bagi Indonesia) pelarian. Kalau tidak salah, dia sempat di rumah tahanan dulu,” kata Teuku.

Teuku belum bisa memastikan Benny masih menjadi buronan pemerintah atau tidak.

Sebelumnya, otoritas Indonesia memang pernah berupaya mengekstradisi Benny ke Indonesia melalui pengajuan red notice ke Interpol pada 2011 lalu. Namun, Interpol mencabut status itu setahun kemudian.

Meski begitu, pemerintah masih terus melakukan pendekatan kepada Inggris, terutama pihak kepolisian, untuk membantu menangkap Benny.

“Kalau terdapat cukup bukti bahwa dia (Benny) terlibat tindakan kriminal, mengapa tidak itu bisa dijadikan rujukan bagi pihak kepolisian untuk meminta kepulangannya. Tapi itu satu yang sifatnya hipotetis, mungkin harus dikonfirmasi kembali ke pihak kepolisian kita,” kata Teuku.

Nama Benny Wenda kembali mencuat setelah Pemerintah Kota Oxford memberikan dia penghargaan Freedom of the City Award pada Rabu (17/7).

Lord Mayor of Oxford, Craig Simmons, mengatakan Benny layak mendapat penghargaan itu karena telah “berkontribusi begitu banyak baik secara lokal maupun di panggung internasional.”

Indonesia mengecam langkah Kota Oxford tersebut. Teuku menuturkan pemerintah melalui KBRI London juga telah melayangkan nota protes kepada Inggris terkait pemberian penghargaan itu.

Menurut dia, pemerintah Oxford tidak memiliki pemahaman utuh sebelum memberikan penghargaan prestisius itu kepada “seseorang yang bertanggung jawab atas kekerasan dan gerakan separatisme bersenjata di Papua.”

“Dia (Benny) bertanggung jawab atas perjuangan politik dan gerakan separatisme bersenjata di Papua. Seharusnya rekam jejak dia menjadi bahan rujukan pemerintah Kota Oxford sebelum memberi penghargaan itu,” kata Teuku. (rds/has)

Sumber Link